Family

Kita tidak bisa memilih oleh siapa kita dilahirkan, siapa orang tua kita, dan seperti apa keluarga kita atau siapa saudara kita.

It’s like a gift, rahmat Allah untuk kita. Seperti kita untuk mereka.

Dan rahmat Allah lagi kita bisa memilih siapa pasangan hidup kita, dengan siapa kita berkeluarga dan keluarga seperti apa yang kita inginkan.

Advertisements

Seorang Yatim

“Apa hubungan anak ini dengan Anda?” 

Dia bertanya kepada seorang lelaki pedagang, pemimpin kalifah dari Makkah yang ia paksa untuk singgah dalam perjalanan niaga di Suria. Sebuah jamuan yang tidak biasa. Sang tuan rumah yang mempelajari teks-teks kuno sedari awal memang yakin, hari ini bukan hari biasa. Begitu juga dengan anak itu. Lelaki belia dengan wajah yang seolah memiliki cahaya sendiri itu seharusnya juga bukan bocah biasa. 

Matanya gelisah penuh hal-hal asing. Ketakutan, kerinduan, dan ketakjuban yang diperas bersamaan. Anak laki-laki itu menggerus keingintahuan. 

Sang tamu lelaki dengan tatapan mata seorang pelindung terbaik sedunia menjawab tanpa setitik pun ragu,

Dia anakku! 

Tidak mungkin ayah anak ini masih hidup! 

Ada yang melonjak dalam batin penunggu biara itu. Aku tidak mungkin salah. Tatapannya menyilet lelaki dari Makkah itu. Dia mencari tahu, seberapa bersungguh-sungguh lelaki itu dengan jawabannya. Menginformasi isyarat yang dia yakini. Mencari pembenaran pada ketetapan yang dia imani. Anak ini harus seorang yatim. 

Lelaki Makkah itu seperti tertelanjangi. Meski dia merasa tidak bersalah saat mengatakan bahwa bocah itu anaknya, sang tuan rumah telah memergoki ketidakjujurannya, ketidakterusterangannya. Dia mengkritik dirinya sendiri sebagai tamu yang tidak sopan. 

Dia anak saudaraku

ujarnya, merevisi apa yang ia katakan sebelumnya. Jemari kiri mengelus jenggot legamnya. 

“Ayah anak ini meninggal dunia pada saat ia masih dalam kandungan ibunya”

#MuhammadSangPenggenggamHujan

Takbir

Malam takbiran saya bersama baby Z momotoran bertiga sama papa saya. Karena umi nya yang insist nyuruh ajak baby Z takbiran bersama anak-anak keliling komplek. Jadilah kami momotoran sambil saya memegang baby Z ditengah yg berdiri supaya bisa ngeliat anak-anak yang takbiran. Anak-anak ini semangat mengumandangkan takbir sambil memegang obor yang dibikin dari bambu dan botol bekas.
Beramai-ramai anak-anak mengumandangkan takbir
“Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar.. Laaillahaillahhuallahhuakbar… Allahuakbar walillahilham… ”
Inilah takbir kemenangan, yang dulu tercatat dari suatu peristiwa agung, peristiwa mulia, peristiwa penting dan bersejarah dalam Islam. Ketika Nabi Ibrahim AS harus menyembelih Nabi Ismail AS.

Pada saat akan disembelih malaikat-malaikat bertakbir
“Allahuakbar.. Allahuakbar.. Allahuakbar..”
Kemudian Nabi Ibrahim AS menjawab 
“Laaillahaillahhuallahhuakbar… ”
Kemudian Nabi Ismail AS menjawab 
“Allahuakbar walillahilham… ”
Dalam sekali makna takbiran dimana muslimin merayakan kemenangan, kemenangan atas diri sendiri dan kemenangan akan janji Allah serta kemenangan akan cinta Allah SWT. 

Hati dan Cinta

Ketahuilah bahwa Allah yang menjadikan matahari dan memberinya cahaya. 

Allah yang menjadikan bunga dan memberinya wangi. 

Allah yang menjadikan tubuh dan memberikanya nyawa. 

Allah yang menjadikan mata dan memberinya penglihatan. 

Maka Allah pulalah yang menjadikan hati dan memberinya cinta. 

-buya hamka