Seorang Yatim

“Apa hubungan anak ini dengan Anda?” 

Dia bertanya kepada seorang lelaki pedagang, pemimpin kalifah dari Makkah yang ia paksa untuk singgah dalam perjalanan niaga di Suria. Sebuah jamuan yang tidak biasa. Sang tuan rumah yang mempelajari teks-teks kuno sedari awal memang yakin, hari ini bukan hari biasa. Begitu juga dengan anak itu. Lelaki belia dengan wajah yang seolah memiliki cahaya sendiri itu seharusnya juga bukan bocah biasa. 

Matanya gelisah penuh hal-hal asing. Ketakutan, kerinduan, dan ketakjuban yang diperas bersamaan. Anak laki-laki itu menggerus keingintahuan. 

Sang tamu lelaki dengan tatapan mata seorang pelindung terbaik sedunia menjawab tanpa setitik pun ragu,

Dia anakku! 

Tidak mungkin ayah anak ini masih hidup! 

Ada yang melonjak dalam batin penunggu biara itu. Aku tidak mungkin salah. Tatapannya menyilet lelaki dari Makkah itu. Dia mencari tahu, seberapa bersungguh-sungguh lelaki itu dengan jawabannya. Menginformasi isyarat yang dia yakini. Mencari pembenaran pada ketetapan yang dia imani. Anak ini harus seorang yatim. 

Lelaki Makkah itu seperti tertelanjangi. Meski dia merasa tidak bersalah saat mengatakan bahwa bocah itu anaknya, sang tuan rumah telah memergoki ketidakjujurannya, ketidakterusterangannya. Dia mengkritik dirinya sendiri sebagai tamu yang tidak sopan. 

Dia anak saudaraku

ujarnya, merevisi apa yang ia katakan sebelumnya. Jemari kiri mengelus jenggot legamnya. 

“Ayah anak ini meninggal dunia pada saat ia masih dalam kandungan ibunya”

#MuhammadSangPenggenggamHujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s